GANGGUAN SENSORIK (Peraba, Pendengaran, Penciuman, Penglihatan, Pengecap, Propioseptif, Vestibular) GANGGUAN BICARA DAN BAHASA (Speech Delay)


MAKALAH


GANGGUAN SENSORIK 

(Peraba, Pendengaran, Penciuman, Penglihatan, Pengecap, Propioseptif, Vestibular) 

GANGGUAN BICARA DAN BAHASA (Speech Delay)


Mata Kuliah

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Dosen:

Dr. RIDWAN, S.Psi., M.Psi


Oleh:

RHOZA NOVITA SARI

LAIFATUL AYNI

SURYANI

DESI FERAWATI


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI (PIAUD)

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI

TAHUN 2026 


KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena dengan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, sehingga makalah yang berjudul Gangguan Sensorik (peraba, pendengaran, penciuman, penglihatan, pengecap, propioseptif, vestibular) Gangguan Bicara dan Bahasa (Speech Delay)” dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pendidik, orang tua, dan seluruh pihak pembacanya.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya, dan bagi para pembaca pada umumnya.

Jambi,    Mei 2026

Kelompok 2

RHOZA NOVITA SARI

LAIFATUL AYNI

SURYANI

DESI FERAWATI


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia memiliki tujuh sistem sensorik utama yang terdiri atas penglihatan, penciuman, peraba, pendengaran, pengecap, propioseptif dan vestibular, system sensorik berfungsi sebagai sarana penerimaan rangsangan dari lingkungan luar yang kemudian di terjemahkan menjadi informasi oleh system saraf pusat melalui mekanisme inilah manusia mampu mengenali, merespons dan beradaptasi dengan dunia sekitar.

Pentingnya sistem sensorik bagi kehidupan manusia dapat dipahami dari peranannya dalam berbagai aspek. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 80% informasi yang diterima manusia berasal dari penglihatan. Indera pendengar tidak hanya membantu proses komunikasi, tetapi juga menjaga keseimbangan tubuh melalui hubungan dengan system vestibular. Sementara itu indra peraba memberikan perlindungan dengan mendeteksi bahaya seperti suhu ekstrem atau rasa sakit. Indera penciuman dan pengecap berfungsi tidak hanya untuk menikmati aroma dan rasa, tetapi juga mendeteksi zat berbahaya yang dapat mengancam kesehatan.

Factor penyebab gangguan sensorik sangat beragam ,proses penuaan (degenerative) menjadi penyebab dominan, namun tidak jarang faktor lingkungan seperti paparan bising, polusi udara dan radiasi juga berkontribusi. Kondisi medis seperti diabetes melitus, stroke atau cedera kepala dapat menimbulkan gangguan sensorik pada lebih dari satu sistem sekaligus. Pada anak-anak gangguan sensorik dapat menghambat tumbuh kembang, terutama pada kemampuan Bahasa dan motoric.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan gangguan sensorik?

2. Apa faktor penyebab gangguan sensorik?

3. Bagaimana dampak gangguan sensorik terhadap kehidupan sehari-hari?

4. Apa upaya yang dapat dilakukan untuk pencegahan dan penanganan gangguan sensorik?

5. Apa saja faktor penyebab keterlambatan bicara dan bahasa?


C. Tujuan Penulisan 

   Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan penulisan makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui gangguan sensorik.

2. Untuk mengetahui factor penyebab gangguan sensorik.

3. Untuk mendeskripsikan dampak sensorik terhadap kehidupan sehari-hari.

4. Untuk memberikan saran mengenai pencegahan dan penanganan gangguan sensorik.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Gangguan Sensorik

Gangguan sensorik adalah suatu keadaan ketika sistem indra manusia seperti penglihatan, penciuman, peraba, pendengaran, pengecap, propioseptif dan vestibular mengalami hambatan sehingga tidak mampu menerima, mengolah, atau merespons rangsangan dengan baik. Sistem sensorik berfungsi sebagai penghubung utama antara manusia dengan lingkungannya, sehingga gangguan pada salah satu indra dapat mengakibatkan kesulitan dalam berinteraksi, sosial, komunikasi bahkan membatasi kemandirian seseorang dalam aktivitas sehari-hari.

Individu dengan gangguan sensorik sering kali mengalami kesulitan dalam berinteraksi di lingkungan, misalnya gangguan penglihatan dapat menghambat kemampuan seseorang dalam membaca atau mengenali wajah, sementara gangguan pendengaran dapat menurunkan kemampuan komunikasi verbal. Gangguan sensorik juga dapat berdampak pada perkembangan motoric, kognitif, serta emosional seseorang, terutama apabila terjadi sejak usia dini, dengan demikian gangguan sensorik bukan hanya persoalan keterbatasan indra melainkan juga berhubungan erat dengan kualitas hidup, kemandirian serta integrase social seseorang.

B. Jenis-jenis Gangguan Sensorik

Gangguan fungsi sensorik dapat dikelompokkan ke dalam berbagai jenis berdasarkan sistem sensoriknya:

1. Gangguan Penglihatan

Gangguan visual terjadi ketika komponen sistem visual (mata atau jalur saraf optik ke otak) tidak berfungsi secara optimal, seperti pada kasus degenerasi makula, katarak, atau retinopati diabetik. Kondisi ini menyebabkan penurunan kemampuan melihat dengan jelas dan memproses informasi visual yang esensial untuk aktivitas sehari-hari.

2. Gangguan Pendengaran

Gangguan pendengaran dapat berupa keterbatasan dalam menerima suara dari lingkungan, baik karena kerusakan struktur telinga atau disfungsi dalam jalur saraf pendengaran. Kondisi ini mempengaruhi kemampuan komunikasi verbal dan dapat menyebabkan isolasi sosial serta kesulitan dalam memahami instruksi suara.

3. Gangguan Sentuhan dan Propriosepsi

Gangguan pada indra peraba dan proprioseptif dapat menyebabkan pasien tidak merasakan tekstur, tekanan, suhu, atau posisi tubuh dengan benar. Hal ini terutama terlihat dalam kasus neuropati perifer di mana reseptor sensorik di ujung saraf rusak sehingga sinyal tidak diterima atau dikirimkan ke otak dengan benar.

4. Sensory Processing Disorder (SPD)

SPD adalah suatu bentuk gangguan di mana otak mengalami kesulitan dalam memproses atau mengintegrasikan rangsangan sensorik yang diterima dari lingkungan. Individu dengan SPD mungkin bereaksi berlebihan atau kurang responsif terhadap rangsangan biasa seperti suara, cahaya, atau sentuhan.

5. Sensory Overload dan Sensory Deprivation

Gangguan persepsi sensorik juga dapat muncul dalam bentuk sensory overload (kelebihan rangsangan) ketika otak kewalahan memproses input yang berlebihan, atau sensory deprivation (kekurangan rangsangan) ketika lingkungan tidak menyediakan stimulasi yang cukup, yang dapat berdampak pada kondisi mental dan emosional pasien.

6. Gangguan Vestibular

Gangguan vestibular adalah kondisi kerusakan sistem vestibular akibat suatu penyakit atau cedera tertentu. Vestibular adalah sistem yang mencakup bagian telinga dalam dan otak yang mengolah informasi sensorik terkait pengendalian keseimbangan tubuh dan pergerakan mata.

Kondisi ini juga dapat disebabkan atau diperburuk dengan kondisi genetik atau lingkungan, atau mungkin saja terjadi tanpa penyebab yang pasti.

7. Gangguan Bicara dan Bahasa

Keterlambatan bicara dan bahasa (speech delay) adalah suatu kondisi terhambatnya perkembangan bicara pada anak-anak di bawah tingkat kualitas perkembangan bicara anak pada umur yang sama tanpa disertai dengan keterlambatan aspek perkembangan lainnya. Speech delay dapat ditandai pada usia 2 tahun memiliki kecenderungan salah dalam menyebutkan kata, pada usia 3 tahun memiliki perbendaharaan kata yang buruk, dan pada usia 5 tahun kesulitan dalam menamai objek. Gangguan bicara dan bahasa terdiri dari masalah artikulasi suara, kelancaran bicara (gagap), dan afasia (kesulitan dalam menggunakan kata-kata). Keterlambatan dan gangguan bicara bisa mulai dari bentuk yang sederhana seperti bunyi suara yang tidak normal (sengau, serak) sampai dengan ketidakmampuan untuk mengerti atau menggunakan bahasa, atau ketidakmampuan mekanisme motorik oral dalam fungsinya untuk bicara dan makan. Keterlambatan bicara dan bahasa (speech delay) adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Anak yang mengalami keterlambatan bicara dan bahasa berisiko mengalami kesulitan belajar, kesulitan membaca dan menulis, dan akan menyebabkan pencapaian akademik yang kurang secara menyeluruh.

C. Faktor Penyebab Gangguan Sensorik

Berbagai faktor dapat menyebabkan gangguan fungsi sensorik, baik kondisi medis maupun faktor lingkungan:

1. Kelainan Neuropatik dan Neurologis

Kondisi seperti neuropati perifer, cedera saraf, stroke, atau penyakit degeneratif saraf dapat merusak jalur sensorik sehingga sinyal tidak mencapai otak dengan benar. Neuropati sering terlihat pada pasien diabetes dan dapat menyebabkan sensasi yang abnormal atau hilang.

2. Gangguan Perkembangan dan Genetik

Pada anak, gangguan sensorik sering dikaitkan dengan kondisi perkembangan seperti Autism Spectrum Disorder (ASD), Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), atau keterlambatan perkembangan lainnya. Masalah ini sering berakar dari pola perkembangan otak yang berbeda, yang mempengaruhi pemrosesan sensorik.

3. Faktor Lingkungan dan Psikososial

Faktor lingkungan seperti paparan suara keras yang berlebihan atau kurangnya stimulasi di lingkungan juga dapat mengganggu kemampuan neuroplastisitas otak dalam memproses rangsangan. Selain itu, kondisi psikologis seperti tingkat stres tinggi atau gangguan kecemasan mempengaruhi cara stimuli sensorik ditafsirkan oleh otak.

4. Usia dan Degenerasi Fisiologis

Usia lanjut sering dikaitkan dengan menurunnya fungsi sejumlah indera seperti penglihatan dan pendengaran melalui proses penuaan, yang menyebabkan penurunan sensitivitas sensorik dan berkontribusi pada gangguan fungsi sensorik.

D. Faktor Penyebab Keterlambatan Bicara dan Bahasa

Kemampuan dalam bahasa dan berbicara dipengaruhi oleh faktor intrinsik (anak) dan faktor ekstrinsik (psikososial). Faktor intrinsik ialah kondisi pembawaan sejak lahir termasuk fisiologi dari organ yang terlibat dalam kemampuan bahasa dan berbicara. Sementara itu, faktor ekstrinsik dapat berupa stimulus yang ada di sekeliling anak, misalnya perkataan yang didengar atau ditujukan kepada si anak.

Menurut Leung dkk (1995), beberapa faktor yang dianggap dapat mempengaruhi keterlambatan bicara dan bahasa pada anak adalah sebagai berikut:

1. Retardasi mental

Retardasi mental merupakan penyebab paling umum dari keterlambatan bicara, tercatat lebih dari 50% dari kasus. Seorang anak retardasi mental menunjukkan keterlambatan bahasa menyeluruh, keterlambatan pemahaman pendengaran, dan keterlambatan motorik. Secara umum, semakin parah keterbelakangan mental, semakin lambat kemampuan komunikasi bicaranya. Pada 30% - 40% anak-anak dengan retardasi mental, penyebabnya tidak dapat ditentukan. Penyebab retardasi mental di antaranya cacat genetik, infeksi intrauterin, insufisiensi plasenta, obat saat ibu hamil, trauma pada sistem saraf pusat, hipoksia, kernikterus, hipotiroidisme, keracunan, meningitis atau ensefalitis, dan gangguan metabolik.

2. Gangguan pendengaran

Fungsi pendengaran dalam beberapa tahun pertama kehidupan sangat penting untuk perkembangan bahasa dan bicara. Gangguan pendengaran pada tahap awal perkembangan dapat menyebabkan keterlambatan bicara yang berat. Gangguan pendengaran dapat berupa gangguan konduktif atau gangguan sensorineural. Tuli konduktif umumnya disebabkan oleh otitis media dengan efusi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan gangguan pendengaran konduktif yang berhubungan dengan cairan pada telinga tengah selama beberapa tahun pertama kehidupan berisiko mengalami keterlambatan bicara. Gangguan konduktif juga dapat disebabkan oleh kelainan struktur telinga tengah dan atresia dari canalis auditoris eksterna. Gangguan pendengaran sensorineural dapat disebabkan oleh infeksi intrauterin, kernikterus, obat ototosik, meningitis bakteri, hipoksia, perdarahan intrakranial, sindrom tertentu (misalnya, sindrom Pendred, sindrom Waardenburg, sindrom Usher) dan kelainan kromosom (misalnya, sindrom trisomi). Kehilangan pendengaran sensorineural biasanya paling parah dalam frekuensi yang lebih tinggi.

3. Autisme

Autisme adalah gangguan perkembangan neurologis yang terjadi sebelum anak mencapai usia 36 bulan. Autisme ditandai dengan keterlambatan perkembangan bahasa, penyimpangan kemampuan untuk berinteraksi, perilaku ritualistik, dan kompulsif, serta aktivitas motorik stereotip yang berulang. Berbagai kelainan bicara telah dijelaskan, seperti ekolalia dan pembalikan kata ganti. Anak-anak autis pada umumnya gagal untuk melakukan kontak mata, merespons senyum, menanggapi jika dipeluk, atau menggunakan gerakan untuk berkomunikasi. Autisme tiga sampai empat kali lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan.

4. Mutasi selektif

Mutasi selektif adalah suatu kondisi dimana anak-anak tidak berbicara karena mereka tidak mau. Biasanya, anak-anak dengan mutasi selektif akan berbicara ketika mereka sendiri, dengan teman-teman mereka, dan kadang-kadang dengan orang tua mereka. Namun, mereka tidak berbicara di sekolah, dalam situasi umum, atau dengan orang asing. Kondisi tersebut terjadi lebih sering pada anak perempuan daripada anak laki-laki Secara signifikan anak-anak dengan mutasi selektif juga memiliki defisit artikulatoris atau bahasa. Anak dengan mutasi selektif biasanya memanifestasikan gejala lain dari penyesuaian yang buruk, seperti kurang memiliki teman sebaya atau terlalu bergantung pada orang tua mereka. Umumnya, anak-anak ini negativistik, pemalu, penakut, dan menarik diri. Gangguan tersebut bisa bertahan selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.

5. Cerebral palsy

Keterlambatan bicara umumnya dialami oleh anak dengan cerebral palsy. Keterlambatan bicara terjadi paling sering pada orang-orang dengan tipe athetoid cerebral palsy. Selain itu juga dapat disertai atau dikombinasi oleh faktor-faktor penyebab lain, diantaranya; gangguan pendengaran, kelemahan atau kekakuan otot-otot lidah, disertai keterbelakangan mental atau cacat pada korteks serebral.

6. Kelainan organ bicara

Kelainan ini meliputi lidah pendek, kelainan bentuk gigi dan mandibula (rahang bawah), kelainan bibir sumbing (palatoschizis/cleft palate), deviasi septum nasi, adenoid atau kelainan laring. Pada lidah pendek terjadi kesulitan menjulurkan lidah sehingga kesulitan mengucapkan huruf "t", "n", dan "l". Kelainan bentuk gigi dan mandibula mengakibatkan suara desah seperti "f", "v", "s", "z", dan "th". Kelainan bibir sumbing bisa mengakibatkan penyimpangan resonansi berupa rinolalia aperta, yaitu terjadi suara hidung pada huruf bertekanan tinggi seperti "s", "k", dan "g".

Selain itu, menurut Leung dkk (1999), terdapat beberapa faktor eksternal yang menjadi penyebab terjadinya keterlambatan bicara dan bahasa pada anak, antara lain yaitu:

1. Lingkungan yang sepi. Bicara adalah bagian tingkah laku, jadi keterampilannya melalui meniru. Bila stimulasi bicara sejak awal kurang (tidak ada yang ditiru) maka akan menghambat kemampuan bicara dan bahasa pada anak.

2. Anak kembar. Pada anak kembar didapatkan perkembangan bahasa yang lebih buruk dan lama dibandingkan dengan anak tunggal. Mereka satu sama lain saling memberikan lingkungan bicara yang buruk karena biasanya mempunyai perilaku yang saling meniru. Hal ini menyebabkan mereka saling meniru pada keadaan kemampuan bicara yang sama–sama belum bagus.

3. Bilingualisme. Pemakaian dua bahasa dapat menyebabkan keterlambatan bicara, namun keadaan ini bersifat sementara. Smith meneliti pada kelompok anak dengan lingkungan bilingualisme tampak mempunyai perbendaharaan yang kurang dibandingkan anak dengan satu bahasa, kecuali pada anak dengan kecerdasan yang tinggi.

4. Teknik pengajaran yang salah. Cara dan komunikasi yang salah pada anak sering menyebabkan keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa pada anak sebab perkembangan mereka terjadi karena proses meniru dan pembelajaran dari lingkungan.

5. Pola menonton. Menonton baik itu televisi ataupun smartphone pada anak-anak usia batita merupakan faktor yang membuat anak lebih menjadi pendengar pasif. Pada saat menonton, anak akan lebih berperan sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu, yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi, maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.

E. Dampak Gangguan Sensorik terhadap Aktivitas 

Gangguan fungsi sensorik dapat berdampak luas terhadap kehidupan pasien, baik secara fisik, sosial, maupun psikologis:

1. Kesulitan Komunikasi: Gangguan pendengaran atau visual berdampak langsung pada kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif, yang kemudian membatasi interaksi sosial.

2. Mobilitas dan Keselamatan: Pasien dengan gangguan persepsi proprioseptif atau keseimbangan memiliki risiko jatuh lebih tinggi karena tubuh tidak dapat menilai posisi ruang dengan benar.

3. Kualitas Hidup: Gangguan sensorik sering berkaitan dengan frustrasi, kecemasan, atau isolasi sosial karena ketidakmampuan untuk merespons rangsangan lingkungan secara normal.

4. Penurunan Fungsi Kognitif: Penelitian menunjukkan bahwa sensory impairment dapat berkorelasi dengan penurunan fungsi kognitif dan keterlibatan sosial, terutama pada lansia.

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Gangguan sensorik merupakan kondisi yang menghambat fungsi indra manusia seperti penglihatan, penciuman, peraba, pendengaran, pengecap, propioseptif dan vestibular. Gangguan ini dapat disebabkan oleh faktor genetik, cidera, penyakit generatif maupun proses penuaan dampaknya sangat luas, mulai dari hambatan dalam belajar, berkomunikasi, hingga beraktivitas sehari-hari yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas hidup, kemandirian, serta interaksi sosial, oleh karena itu pemahaman mengenai jenis, penyebab dan dampak gangguan sensorik menjadi penting agar masyarakat, pendidik, dan tenaga kesehatan dapat memberikan penanganan serta dukungan yang tepat pada individu yang mengalaminya.

B. Saran

Diperlukan upaya pencegahan dan penanganan gangguan sensorik melalui pemeriksaan kesehatan rutin, edukasi tentang pentingnya menjaga fungsi indera, serta intervensi medis maupun rehabilitas sesuai jenis gangguan bagi lingkungan pendidikan dan masyarakat. Penting untuk menciptakan suasana yang inklusif dan memberikan dukungan berupa fasilitas yang ramah bagi penyandang gangguan sensorik, sehingga mereka tetap dapat berpartisipasi aktif dalam kehidupan social. Selain itu ,penelitian dan pengembangan layanan kesehatan harus terus ditingkatkan agar metode terapi dan alat bantu sensorik semakin optimal dalam meningkatkan kualitas hidup bagi penderitanya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, E.B. 1997. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.

Papalia, D.E. dan Olds, S.W. 2004. Human Development. New York: McGraw-Hill.

Suparmiati, A.,  Ismail, D., dan Sitaresmi, M.N. 2013. Hubungan Ibu Bekerja dengan Keterlambatan Bicara pada Anak. Sari Pediatri, Vol. 14, No. 5.

Makum, A.H. 1991. Gangguan Perkembangan Berbahasa, Buku Ajar Ilmu  Kesehatan Anak. Jakarta: FKUI. 

Leung, dkk. 1995. Mental Retardation. J.R. Soc  Health. 

Leung, dkk. 1999. Evaluation And Management of the Child With Speech Delay. Am Fam Phys.


Komentar